Katak Dalam Sumur
Kenapa hanya aku yang tak terlihat di mata mereka?
Kenapa hanya aku yang selalu tertinggal?
Kenapa hanya aku yang dipilih untuk pekerjaan yang membosankan?
Dan kenapa hanya aku yang tak pernah diajak?
Di atas sana, ribuan katak saling bersahutan,
membelah sunyi dengan tawa dan percakapan.
Sedangkan ia memilih diam,
menyendiri dalam palung sumur terdalam.
Keheningan menjadi teman,
sesak menjadi rumah.
Ia menelan rasa yang tak pernah sempat diucapkan:
tak dikenal,
tak dipedulikan,
seolah keberadaannya tak pernah benar-benar dihitung..
Bahkan napasnya pun terhuyung bersama angin.
Lalu ia kembali bertanya,
kenapa hanya dirinya yang tak terlihat?
Kenapa hanya dirinya yang seolah tak berarti?
Ah… mungkin ia memang tak lebih baik dari yang lain.
Mungkin ia tak cukup bersinar.
Atau mungkin…
ia memang tak pernah pandai menjadi seramai dunia.
Sejak dulu dunianya memang sepi.
Hanya dingin yang menyelimuti wajahnya,
hanya sunyi yang menempel pada tenggorokannya.
Ia tak pernah menjadi ramai,
dan mungkin tak akan pernah mampu menjadi ramai.
Lalu bagaimana caranya ia bisa seperti mereka?
Suaranya tak pernah terdengar,
bahkan gertakan giginya tak pernah mengusik siapa pun.
Setiap kalimat yang hendak lahir
selalu patah,
tertimbun sorak katak-katak ramai.
Begitu pula matanya.
Yang ada hanyalah ketajaman yang memantulkan sepi.
Mereka menyebutnya jarak,
kesombongan,
atau sesuatu yang membuat mereka enggan mendekat.
Tak ada yang benar-benar ingin menjadikannya lawan bicara.
Maka ia pun merelakan takdirnya,
takdir untuk diam.
Hari-hari yang sunyi menggerogoti jiwanya perlahan.
Kepalanya nyaris pecah,
menahan lenguh yang tak pernah menemukan telinga.
“Mendengus sajalah,” katanya pada dirinya sendiri.
“Tak ada gunanya menyalakan kalimat-kalimat panjang.”
Sebab segema apa pun sumur itu,
tak seorang pun akan menengok ke dalamnya.
Dan jika sesekali ada yang melongok,
mereka hanya berbisik,
“Seram.”
Lalu pergi,
meninggalkan sumur itu tetap gelap,
tetap sunyi,
dan ia masih menunggu seseorang percaya bahwa diam pun bisa menyimpan kehidupan.
Komentar
Posting Komentar